09 Mei 2017 08:47

Latih Presiden Termuda Berpidato/

MyPassion
HARMONIS: Brigitte Trogneux kunci kemenangan Emmanuel Macron

KEMENANGAN Emmanuel Macron dalam pilpres putaran kedua Prancis pada Minggu (7/5), membuat nama Brigitte Trogneux mendunia. Perempuan 64 tahun yang dinikahi Macron pada 2007 itu bakal menjadi ibu negara. Dia berjanji menjadi jembatan bagi rakyat Prancis dan sang presiden.

“Tanpa dia, saya tidak akan pernah menjadi saya yang sekarang ini,” ucap Macron tentang Trogneux di hadapan massa pendukung dalam pidato kemenangannya pada April lalu. Saat itu, dia baru saja memenangkan pilpres putaran pertama dan dipastikan melaju ke putaran kedua. Selama kampanye, Macron memang tidak pernah absen mengajak sang istri. Mereka juga selalu memamerkan kemesraan.

Kendati selisih usia 24 tahun 8 bulan antara pasangan suami istri itu sangat kentara, Macron tidak pernah peduli. Dia tak menggubris kritik media atau sindiran publik tentang sang istri. Menurut pengganti Presiden Francois Hollande tersebut, Trogneaux adalah segalanya. Karena itu, dia bertekad untuk selalu mengajak sang istri saat dirinya harus tampil di hadapan publik.

Bukan tanpa alasan jika sekarang Macron tak mau terpisah dari sang istri, terutama di depan kamera. “Sudah terlalu lama kami sembunyi-sembunyi atau menutup-nutupi karena ada terlalu banyak orang yang salah mengartikan cinta kami,” kata pemimpin 39 tahun tersebut. Kini setelah menjadi orang yang paling disorot di Prancis, dia ingin Trogneux jadi bagian dari itu.

“Dia adalah salah satu dari sedikit orang kepercayaan Macron,” ujar seorang tokoh En Marche! yang mengenal dekat Macron. Di matanya, presiden termuda Prancis itu adalah sosok yang tidak mudah percaya kepada orang lain. Namun, kepada Trogneux yang kali pertama dikenal sebagai guru sastra dan pelatih drama di SMA tersebut, Macron sepenuhnya percaya.

Seiring dengan berjalannya waktu, hubungan murid-guru itu berubah menjadi kekasih. Sebagai kekasih pria yang jauh lebih muda, Trogneux tidak sekadar menjadi belahan jiwa. Dia juga menjadi mentor, penasihat, dan inspirator. “Kami selalu bertukar cerita tentang apa pun saat berada di rumah. Itu cara kami saling memperhatikan,” ucap Trogneux.

Bersama Trogneux, Macron langsung menjadi ayah tiga anak. Semua adalah anak Trogneux dari pernikahan sebelumnya. Kini mereka punya tujuh cucu. Sejak yakin Trogneux adalah jodohnya, Macron selalu melibatkan anak-anak dalam hubungan mereka. Itulah yang membuat tiga anak Trogneux juga menyayangi Macron. “Saat hendak melamar, dia bertanya kepada kami,” kata Tiphaine Auziere, anak Trogneux.

Saat Macron serius terjun ke dunia politik, Trogneux-lah orang pertama yang serius mendukungnya. Bahkan, dia rela meninggalkan karirnya di dunia pendidikan. Dia berhenti mengajar sejak 2015 dan mencurahkan seluruh perhatian kepada sang suami. Setelah Macron mencalonkan diri sebagai presiden, Trogneux tambah sibuk. Dia melatih suaminya berpidato. Khususnya mengatur irama dan nada suara.

Saat disinggung tentang kisah cinta yang dimulai dari pertemuan di kelas itu, Trogneux menyampaikan bahwa semua sudah suratan takdir. Dia tidak menyangka, jika kisah kasihnya itu lantas berubah menjadi hubungan yang lebih serius setelah bercerai dengan suami pertamanya pada 2006. “Tidak ada yang tahu kapan hubungan kami menjadi percintaan. Itu kisah kami. Itu rahasia kami,” tegasnya. (jpg/vip)

Kirim Komentar