03 Mei 2017 13:26
Penyebaran Guru Belum Merata

Minahasa Masih Butuh Tenaga Pengajar

MyPassion

TONDANO –  Kondisi pendidikan di Minahasa sudah baik. Anggaran yang diplot untuk sektor pendidikan sudah sesuai dengan aturan minimal 20 persen dari APBD. Di Minahasa sendiri, APBD tahun 2017 menyentuh angka Rp 1,2 triliun.  Dengan alokasi untuk pendidikan sebesar Rp 303 miliar. Atau mencapai lebih dari 20 persen. Namun, yang menjadi kendala untuk sektor pendidikan adalah kebutuhan tenaga pengajar.

Hal ini diakui Bupati Minahasa Jantje Wowiling Sajow (JWS). Menurut mantan Kepala Dinas Pendidikan ini, kondisi tenaga pengajar di Minahasa kelihatan banyak namun sebenarnya belum mencukupi. “Kita memiliki jumlah guru sekira tiga ribuan (lihat grafis, red). Kelihatan banyak. Namun, nyatanya kita masih kekurangan. Hal ini disebabkan karena penyebaran yang belum merata,” ucap JWS usai menjadi inspektur upacara dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang dihelat di Lapangan Kantor Bupati, Selasa (2/5) kemarin.

Ia menjelaskan, belum meratanya penyebaran guru ini dapat dilihat dari sekolah-sekolah yang berada di seluruh desa di Minahasa. “Jumlah desa ada 227. Setiap desa itu ada dua atau tiga SD,” jelas JWS. Dari setiap sekolah, lanjut mantan Kepsek ini, harus diisi dengan jumlah guru yang ideal. Yaitu untuk SD, enam guru kelas ditambah guru agama, guru olahraga dan Kepsek. Jadi total harus memiliki sembilan guru,” katanya. “Sedangkan untuk SMP, harus memenuhi standar guru per mata pelajaran,” terangnya.

Jadi, ia melanjutkan, setelah dihitung, jika menginginkan kondisi ideal maka Minahasa kekurangan guru. “Solusinya, kita akan melakukan merger belajar agar siswa mendapatkan kualitas pendidikan yang baik,” ungkap JWS. Merger belajar ini, sambungnya, bukanlah merger sekolah. “Sekolah tidak digabung. Yang digabung hanya kegiatan belajarnya. Guru-guru bisa efektif dalam mengajar, karena kita tak mungkin menggabung institusi sekolah, jadi ktia gabung kegiatan belajarnya. Untuk ujian itu di sekolah masing-masing,” pungkas JWS.

Kepala Dinas Pendidikan Arody Tangkere menambahkan, untuk pelaksanaan merger belajar akan dimulai tahun ajaran baru ini. “Merger belajar akan dimulai tahun ini. Di semeseter baru usai liburan nanti,” kata Tangkere.  “Jadi untuk sekolah yang jumlah siswa atau jumlah gurunya minim, kita akan lakukan program merger belajar dengan sekolah lain yang ada di desa tersebut. Sekali lagi bukan merger insititusi namun hanya kegiatan belajarnya,” tukas Tangkere., (fgn)

Kirim Komentar