24 Apr 2017 09:01

Tahan Dosen, Korut Pancing AS

MyPassion

SEOUL – Krisis Korea Utara (Korut) dengan Amerika Serikat (AS) kian panas. Media Korea Selatan (Korsel) Yonhap kemarin (23/4) melaporkan, Pyongyang menahan seorang warga AS bernama Tony Kim. Penahanan dilakukan Jumat (21/4) di Pyongyang International Airport, saat dia akan meninggalkan negara terisolasi tersebut.

 

Kim sebulan berada di Korut untuk mengajar kursus akuntansi di Pyongyang University of Science and Technology (PUST). Rektor PUST Chan Mo-park mengungkapkan, dirinya tidak tahu alasan penahanan Kim. Yang jelas terjadi bukan karena pekerjaannya di universitas tersebut. “Dia memiliki beberapa aktivitas lain di luar PUST, misalnya membantu panti asuhan. Saya benar-benar berharap agar dia segera dibebaskan,’’ ujar Chan.

Kim yang berusia 50-an tahun merupakan mantan profesor di Yanbian University of Science and Technology (YUST), Tiongkok. Lembaga pendidikan tersebut adalah sister university dari PUST yang dibuka pada 2010. Mayoritas mahasiswanya adalah anak-anak dari kaum elite Korut.

Badan Intelijen Nasional Korsel menyatakan belum tahu perihal penahanan Kim. Sedangkan YUST tidak menjawab konfirmasi yang dilakukan Yonhap. Korut ditengarai sengaja menahan warga AS agar petinggi negara yang dipimpin Donald Trump tersebut berkunjung ke Pyongyang dan melakukan berbagai kesepakatan.

Negara yang dipimpin Kim Jong-un itu sebelumnya menahan dua warga AS. Keduanya belum dibebaskan hingga kini. Otto Warmbier ditahan Januari tahun lalu dan dihukum 15 tahun kerja paksa. Mahasiswa AS berusia 22 tahun itu berusaha mencuri banner propaganda Korut. Pada Maret 2016, giliran Kim Dong-chul, 62, yang dihukum 10 tahun kerja paksa. Warga Korsel yang memiliki kewarganegaraan AS itu dituduh menjadi mata-mata.

Sementara itu, Program nuklir Korut masih menjadi perhatian Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Mike Pence. Di sela-sela lawatannya ke Australia (22/4), tokoh 57 tahun itu kembali menegaskan, unit tempur AS yang dipimpin kapal induk USS Carl Vinson sedang menuju Semenanjung Korea. Tepatnya Laut Jepang. “Perkiraan kami, armada tersebut tiba di Laut Jepang dalam hitungan hari,” kata Pence dalam jumpa pers di Sydney. Dia menjamin, sebelum akhir bulan, unit tempur AS yang selama ini siaga di Singapura tersebut tiba di tujuan. Jika semuanya berjalan sesuai instruksi Presiden Donald Trump, seharusnya USS Carl Vinson sudah tiba di Semenanjung Korea pekan lalu.

Pada 8 April Washington menegaskan, USS Carl Vinson bergerak menuju Laut Jepang dari Singapura. Namun, pekan ini muncul kabar yang menyebut kapal induk tersebut tidak bergerak ke Semenanjung Korea seperti perintah Trump. USS Carl Vinson tetap berlayar ke Australia untuk menggelar latihan gabungan seperti jadwal semula. Fakta itu sempat membuat Pentagon dan Gedung Putih kewalahan.

Tanpa banyak basa-basi, Pence menegaskan, unit tempur AS itu akan tiba di wilayah Korea dan Jepang pekan depan. Dia tidak mau berkomentar tentang dugaan adanya kesalahpahaman dan salah instruksi. “Yang perlu diketahui rezim Korut adalah AS punya personel, persenjataan, dan pengaruh di kawasan ini. Kami akan membela kepentingan dan keamanan sekutu-sekutu kami,” paparnya.

Ketegangan AS dan Korut meningkat setelah akhir pekan lalu Pyongyang mengujitembakkan rudal. Kabarnya, aktivitas di sekitar kompleks nuklir Korut belakangan ini juga meningkat. Media Korea Selatan (Korsel) menduga Kim Jong-un, pemimpin tertinggi Korut, sedang mempersiapkan uji nuklir keenam. Jika itu terjadi, AS mengaku tidak akan segan melancarkan aksi militer terhadap Korut.

Namun, Pyongyang bergeming. Ancaman dan teguran AS serta masyarakat internasional tidak membuat Jong-un melunak. Sebaliknya, putra bungsu mendiang Kim Jong-il itu malah mengaku semakin tertantang meningkatkan program senjata nuklir. Pekan ini, diwakili seorang petingginya, pemerintahan Jong-un malah ganti mengancam akan melancarkan serangan nuklir ke AS jika terus-menerus ditekan.

Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri (PM) Australia Malcolm Turnbull kemarin, Pence menyatakan bahwa Tiongkok bisa berbuat lebih banyak demi mencegah eskalasi politik di Semenanjung Korea. “Langkah-langkah yang ditempuh Beijing untuk meredam ambisi Korut patut mendapatkan apresiasi positif. Tapi, saya yakin Beijing bisa melakukan yang lebih baik lagi,” katanya.(jpg/vip)

Kirim Komentar