08 Apr 2017 08:51

Gulingkan Suriah, AS Hadapi Rusia

MyPassion
Donald Trump

AS- Persahabatan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin diuji. Dengan menyerang Suriah, AS sebenarnya tidak hanya berhadapan dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad semata, tapi juga negara-negara di belakangnya, yaitu Rusia dan Iran. Sejak tahun 2015, Vladimir Putin membantu perjuangan Suriah dengan dalih memberantas ISIS. Salah satunya merebut Aleppo.

Rusia adalah negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB yang kerap melancarkan veto setiap kali Suriah coba dikecam. Dengan bantuan pasukan Rusia juga, Suriah berhasil memperoleh kemenangan di beberapa kota, di saat tentara mereka kewalahan menghadapi perlawanan kubu oposisi bersenjata.

Trump sendiri mengonfirmasi dirinya memerintahkan serangan puluhan rudal terhadap sejumlah sasaran milik pemerintah Suriah. Serangan ini dilakukan sebagai respons atas serangan senjata kimia yang menewaskan puluhan warga sipil, termasuk anak-anak, di Idlib. Trump menuding Assad ada di balik peristiwa mematikan tersebut. Di bawah perintah Trump, kapal perang AS meluncurkan 50-60 peluru kendali penjelajah Tomahawk ke pangkalan udara yang diyakini merupakan markas pesawat pengirim senjata kimia itu.  "Assad mencekik orang yang tak berdaya," kata Trump, dikutip CNN setelah serangan berakhir, Jumat (7/4). "Tidak dapat diperdebatkan lagi bahwa Suriah menggunakan senjata kimia yang dilarang dan tak menghiraukan dorongan Dewan Keamanan PBB," ujarnya di sela pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping.

Seorang pejabat pertahanan AS mengatakan serangan itu mengincar landasan udara, pesawat dan titik-titik bahan bakar. Rudal itu diluncurkan dari kapal perang di Mediterania Timur.

Serangan ini adalah aksi militer langsung pertama yang diambil Amerika terhadap pemerintah Bashar al-Assad dalam perang saudara selama enam tahun yang melanda Suriah. Karena itu, serangan ini juga mewakili eskalasi operasi besar-besaran AS di kawasan, yang bisa diartikan oleh pemerintah Suriah sebagai aksi peperangan. Amerika Serikat mulai meluncurkan serangan udara di Suriah pada September 2014 lalu di bawah pemerintahan Barack Obama sebagai bagian operasi koalisi melawan ISIS. Namun, mereka hanya mengincar kelompok teroris, bukan pasukan pemerintah.

Operasi ini juga semakin tegaskan oposisi AS kepada rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad dan para koalisinya yang terdiri dari Rusia dan Iran. Risiko AS untuk terlibat perang terbuka dengan Rusia dan Iran juga semakin meningkat. Presiden Trump menjelaskan bahwa serangan tersebut ‘vital bagi keamanan nasional AS. Dan, meminta agar negara-negara bermartabat untuk bergabung menghentikan pembantaian dan pertumpahan darah di Suriah, serta menghentikan segala bentuk terorisme."

"Kami memohon kebajikan Tuhan saat kita harus menghadapi dunia yang penuh masalah ini," tambah Presiden Trump seperti dikutip The Washington Post, Kamis, (6/4). "Kami mendoakan mereka yang masih hidup, yang sedang terluka, dan yang telah meninggal. Kami berharap selama Amerika masih menegakkan keadilan, damai dan harmoni akan tercipta," tambahnya.

Diketahui, Ke-59 misil kendali jarak jauh itu diluncurkan dari dua kapal laut AS jenis penghancur (destroyer class ship), yakni USS (United States Ship) Ross dan USS Porter. Dua kapal itu berlayar di Mediterania Timur. Semua misil yang ditembakkan dari kedua kapal itu menghujam bandar udara militer Shayrat  dan sekitarnya yang berada di Provinsi Homs.

Bandara Shayrat diduga kuat sebagai landasan pacu bagi pesawat nahas pembawa misil terkutuk yang menyerang Idlib pada Selasa, 4 April lalu. Misil itu juga mengenai fasilitas militer di sekitar Bandara Shayrat, seperti artileri pertahanan udara, beberapa pesawat, hangar, dan tangki bahan bakar.

Sebelum serangan dimulai, AS telah lebih dulu mengabarkan kepada Rusia soal serangan rudal tersebut.

Dituturkan seorang pejabat Pertahanan AS, seperti dilansir CNN, Jumat (7/4), pihak AS telah berkomunikasi beberapa kali dengan pihak Rusia sepanjang Kamis (6/4) waktu AS, untuk memperingatkan mereka soal serangan yang akan dilakukan AS. Namun pejabat Pertahanan AS ini tidak menjelaskan lebih lanjut soal peran maupun kepentingan Rusia di pangkalan udara itu.

Seorang sumber militer Suriah, seperti dilansir AFP, mengakui serangan AS itu mengenai salah satu pangkalan udara mereka dan memicu kerusakan.

Sementara itu, Pemerintah Arab Saudi pada Jumat menyatakan ‘sepenuhnya mendukung’ serangan udara Amerika Serikat terhadap pangkalan udara pemerintah Suriah sebagai balasan atas dugaan serangan menggunakan senjata kimia di daerah kekuasaan pemberontak.

"Arab Saudi mendukung penuh operasi militer Amerika Serikat terhadap target-target militer di Suriah, yang merupakan respons terhadap penggunaan senjata kimia oleh rezim terhadap warga sipil tidak berdosa," kata pejabat Kementerian Luar Negeri Arab Saudi seperti dilansir SPA, kantor berita resmi negara itu. Pejabat tersebut mengatakan rezim Suriah hanya bisa menyalahkan diri sendiri setelah kejahatan keji yang dilakukan rezim selama bertahun-tahun terhadap rakyat Suriah.

Ia menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump ‘berani’ mengambil tindakan ketika masyarakat internasional gagal menghentikan tindakan rezim. Pemerintah Amerika Serikat menyatakan tengah mempersiapkan langkah-langkah untuk menggulingkan rezim Bashar al-Assad.

"Langkah itu sedang kami lakukan," kata Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson, Jumat (7/4).

Hal itu disampaikan menanggapi pertanyaan wartawan soal kemungkinan AS merangkul koalisi internasional untuk menyingkirkan pemimpin Suriah, disiarkan CNN.

Wacana penggulingan Assad ini, secara terpisah, disuarakan juga oleh Turki. Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu mengatakan Assad mesti segera disingkirkan dari negara yang dilanda konflik selama enam tahun itu.

Dia mengatakan transisi pemerintah harus dilakukan sembari menyerukan dukungan untuk serangan rudal AS yang menewaskan enam orang tentara Suriah itu. "Penting untuk menggulingkan rezim Assad secepatnya dari kepemimpinan Suriah," kata Mevlut dikutip Reuters. "Jika dia tidak mau mundur, jika tidak ada transisi pemerintah, dan jika dia terus melakukan kejahatan kemanusiaan, langkah untuk menggulingkannya perlu dilakukan. (berbagai sumber)

Kirim Komentar