08 Feb 2017 08:53

Hangus karena Cap Tikus

MyPassion

Data kepolisian, 75 persen kriminalitas di Sulawesi Utara dipicu konsumsi miras belebihan, termasuk cap tikus. Barang panas yang menghanguskan tubuh dan uang. Namun, menjadi penopang bagi sebagai masyarakat.

SELANG dua tahun, 22 ribu kasus kriminal terjadi. Bila dirata-ratakan, dalam sehari, ada 30 kasus yang ditangani kepolisian. Kapolda Irjen Pol Bambang Waskito menyebut, mayoritas tindak kriminal diakibatkan konsumsi miras berlebih. Yang paling banyak dikonsumsi adalah cap tikus. Murah, keras.

Efeknya langsung terasa. Sebenarnya, sejak lama peredaran dan penjualannya sudah dilarang. Tapi, tetap saja ada yang menjual diam-diam. Seorang penjual cap tikus di Manado mengaku, dalam semalam, 20 botol volume 600 ML bisa terjual. Menurutnya, tidak sulit menjual minuman ini. “Orang yang datang. Tiap hari pasti ada yang beli,” ungkap pria ini. Per botol dijual Rp 30 ribu. Itu baru di satu warung saja.

Bila satu desa/kelurahan ada satu warung menjual 10 botol cap tikus, maka dengan jumlah desa/kelurahan mencapai 1.851 maka ada 18.510 botol dikonsumsi setiap hari. Ini belum termasuk pasokan cap tikus ke perusahaan minuman beralkohol dan yang dikirim ke luar daerah. Bila dirupiahkan, angkanya bisa Rp 375.000.000.

Sudah nyata, memusnahkan barang ini bukanlah mudah. Mengapa? Cap tikus masih menjadi sumber panghasilan utama bagi sebagian masyarakat. Hampir semua daerah memproduksi cap tikus. Namun, 60 persen produksinya dari Kabupaten Minahasa Selatan.

Manado Post melakukan penelusuran ke sebuah desa yang 85 persen warganya bertani cap tikus. Desa Powalutan Kecamatan Ranoiapo terletak di pegunungan. Di ujung Minsel berbatasan dengan Kabupaten Minahasa Tenggara. Dari Amurang, butuh waktu sekira 90 menit ke desa dengan 517 kepala keluarga ini. (*)

Berita Terkait
Kirim Komentar