08 Feb 2017 09:31

Bisa Jadi Karena Porno

MyPassion

MEMBUAT cap tikus butuh berhari-hari. Kerja sejak pagi hingga sore. Butuh waktu dan tenaga. Waktu menunjukkan pukul 5.30 Wita. Udara di Desa Powalutan sangat dingin. Adalah Om Kromiko, seorang pria berbadan tegap berumur 30-an yang bersedia menjadi pemandu. Porno di tengah hutan. Di situlah semua berawal.

Porno adalah tempat memasak saguer atau penyulingan. Dari desa menuju Porno harus ditempuh dengan berjalan kaki sejauh lima kilometer. Jalannya mendaki dan becek. tapi, pemandangan dari atas gunung sangat indah. Sebenarnya, di desa itu ada cengkih dan cokelat. “Cengkih dan lainnya itu musiman, kalau cap tikus tiap hari menghasilkan. Kalau buat gula aren hanya saat pengucapan saja,” tutur Om Iko.

Di lokasi sudah ada Opa John dan Opa Welem. Prono dibuat dari peralatan sederhana. Opa John sudah menjadi petani cap tikus sekira dari tahun 70-an. “Memang menjadi petani cap tikus sangat berat. Menguras tenaga. Tetapi karena motivasi opa untuk membiaya kebutuhan keluarga termasuk membiayai anak sekolah,” tuturnya sembari membuka topinya dan menyeka keringat yang bercucuran dari kepalanya. “Sekarang anak-anak semua sarjana, ada mobil, dan rumah. Itu semua karena kerja keras bertani cap tikus,” ungkapnya.

Tak jauh dari situ terdapat pohon seho. Tingginya 10 meter. Sebuah bambu disandarkan di pohon itu. Opa Welem dengan cekatan naik ke bambu yang hanya dilubangi sebagai tempat berpijak. Di sisi kanan pohon terdapat sebuah galon tempat mengumpulkan saguer hasil tifar.

Dengan pedang sangat tajam, mayang pohon seho diketuk untuk merangsang nira atau saguernya. Proses pengetukkan dibutuhkan tiga sampai empat hari agar saguer banyak dan bagus. Menurut Opa Welem, Saguer yang ditifar pada pagi hari masih manis. Itu tidak bagus untuk cap tikus. Harus asam. Makanya, tak jarang, saguer didiamkan sehari barulah disuling.

12
Kirim Komentar