11 Jan 2017 12:18

Tret-tet-tet Kelas IV SD

MyPassion

Saya termasuk beruntung, orang tua saya pengurus tim. Jadi bisa nonton semua pertandingan di Surabaya. Pulang sekolah, naik bemo sendirian ke stadion, masuk masih pakai seragam, lalu nonton di kawasan bench pemain atau kadang-kadang duduk di pinggir gawang.

Atau kalau terburu-buru dan bemo kelamaan, saya naik angguna.

Saya ingat betul, guru-guru saya di SD, tetangga-tetangga, terus heboh minta dicarikan tiket. Tidak harus gratis. Bayar pun mereka bersedia asal dapat tiket.

Laki-laki, perempuan, keluarga, segala usia.

Semua heboh sepak bola.

Lalu, ada heboh tret-tet-tet, istilah resmi pergi bareng untuk mendukung tim bertanding di luar kota.

Keren sekali waktu itu. Ada yang carter pesawat. Booking puluhan bus. Dan lain-lain. Semua rapi. Semua tertib.

Sulit dipercaya, saya pernah jadi bagian dari tret-tet-tet itu.

Masih kelas IV SD, saya dititipkan ke salah satu bus suporter yang akan berangkat ke Jakarta. Sendirian.

Karena tidak resmi ikut membeli tiket bus, sifatnya dititipkan, saya tidak dapat jatah kursi.

Saya disuruh duduk atau berbaring di “ruang kosong memanjang” di belakang baris paling belakang.

Makan ya ikut jatah makan suporter. Paling ingat dan paling suka saat ada suporter yang membawa mi kering, lalu dibagi-bagikan kepada yang lain untuk dimakan tanpa dimasak.

Lalu ikut nonton di Senayan, lalu pulang dengan bus juga di “tempat berbaring” yang sama.

Kelas IV SD.

Sendirian.

123
Berita Terkait
Komentar
Kirim Komentar