09 Jan 2017 11:13

Veteran Perang Iraq Beraksi di Bandara, Lima Tewas

MyPassion
MENYELAMATKAN DIRI: Polisi mengamankan dan memeriksa orang-orang yang ada di halaman bandara. Insert: Esteban Santiago. (Reuters, AP)

Peristiwa memilukan terjadi Jumat (6/1) waktu Amerika Serikat. Veteran perang Iraq, Esteban Santiago beraksi di Bandara Internasional Fort Lauderdale, Florida. Lima orang tewas pada tragedi ini.

BANDARA Internasional Fort Lauderdale, Florida, seperti biasanya. Ramai. Maklum saja, bandara ini berada di kawasan wisata. Berdekatan dengan pantai dan terminal kapal pesiar Port Everglades. Siang itu, cukup banyak pengunjung antre di tempat pengambilan bagasi.

Seakan tak menyadari bahaya sedang mengintai. Esteban Santiago, baru saja turun pesawat Delta Air, ditumpangi dari Alaska yang transit di Minnesota. Dari informasi, pria 26 tahun itu sempat mampir di kamar kecil. Diduga, saat itulah dia merakit senjata api dan memasukkan peluru. Tanpa pikir panjang, senjata diarahkan pada pengunjung di deretan antrean pengambilan bagasi. Sedikitnya 10-15 peluru dia tembakan. Dengan bidikan kepala pengunjung. Tidak ada kata-kata yang terucap saat Santiago menembaki korbannya satu per satu. Dia menyerahkan diri setelah amunisinya habis. Santiago yang kala itu menggunakan kaus Star Wars langsung tengkurap sambil meregangkan tangan dan kakinya. Dia menunggu untuk diamankan. Saat kejadian, dia membawa serta identitas militernya.

Santiago langsung diinterogasi oleh FBI. Dari berkas laporan penyelidikan yang ditulis agen FBI Michael Ferlazzo, pelaku memang sudah berniat melakukan penembakan massal. Santiago mengaku sudah merencanakan penembakan tersebut dan hanya membeli tiket sekali jalan ke Florida. Dia tidak membawa apa pun. Kecuali tas berisi senjata api dan dua magasin berisi peluru.

Santiago menjalani proses dakwaan di pengadilan federal pada Sabtu (7/1). Dakwaannya adalah pelanggaran penggunaan senjata api dan melakukan tindakan kekerasan dengan melakukan penembakan di Bandara Internasional Fort Lauderdale. Karena perbuatannya, lima orang tewas dan enam orang luka-luka. ’’Jika terbukti bersalah, dia bisa dihukum mati atau penjara seumur hidup,’’ ujar jaksa Wifredo Ferrer.

Sebelum dakwaan tersebut dibacakan, saudara pelaku, yaitu Bryan Santiago, menuturkan bahwa kejadian tragis itu seharusnya bisa dicegah. Saat datang ke kantor FBI di Anchorage, Alaska, November tahun lalu, pelaku membawa serta senjata miliknya. Ketika itu dia mengaku kepada petugas FBI bahwa dirinya dipaksa memerangi kelompok militan Islamic State (IS) alias ISIS. Selain itu, CIA mengontrol pikirannya serta kerap mengirimkan gambar-gambar dan video ISIS.

12
Kirim Komentar