22 Des 2016 07:48
Irjen Waskito Jangan Kecolongan

Teror Bom Natal Dekati Sulut

MyPassion
Ilustrasi

MANADO—Kapolda Sulut Irjen Pol Bambang Waskito mendapat pekerjaan rumah (PR) untuk mengamankan Natal dan Tahun Baru dari ancaman teror. Apalagi, penangkapan terduga teroris di empat lokasi berbeda, kemarin (21/12), menujukkan para kelompok ekstrimis itu terus beraktivitas di belakang layar. Diduga Sulut menjadi salah satu target. Hal ini mengingat posisi Sulut yang berbatasan dengan Filipina.

Seperti pernyataan Presiden Filipina Rodrigo Duterte, Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) akan mendirikan kekhalifahan baru di empat negara Asia Tenggara, yakni Filipina, Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. Filipina sendiri, telah lebih dulu menjadi home base ISIS di Asia Tenggara.

Indikasi lain, kembalinya puluhan simpatisan ISIS warga negara Indonesia (WNI) ke tanah air. Jelang akhir Oktober 2016, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto mengemukakan, sebanyak 53 WNI pendukung jaringan terorisme ISIS di Suriah dan Irak telah kembali ke Indonesia.

Masalah ini pun telah dilaporkan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Suhardi Alius, ke Presiden Joko Widodo (Jokowi). Namun, menurut Suhardi, masih ada ratusan WNI yang berada di markas ISIS.

Sementara, tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri juga terus bergerak. Seperti seharian kemarin (21/12), tim Densus berhasil melakukan penggerebekan dan penangkapan terduga teroris di empat lokasi berbeda. Yakni, Tangerang Selatan (Banten), Payakumbuh (Sumatera Barat), Deliserdang (Sumatera Utara) dan Batam (Kepulauan Riau).

Diawali di Tangerang Selatan, baku tembak antara Densus 88 dengan kelompok teroris sempat terjadi di Kampung Curug, Kelurahan Babakan, Kecamatan Setu sekitar pukul 11.00 Wita. Baku tembak itu terjadi usai pasukan Densus mengepung sebuah bangunan kontrakan yang ditinggali tiga orang terduga teroris. Mereka adalah Helmi Hendriyana alias Elmi, Irawan alias Irwan, dan Omen alias Dedi Sutisna.

Sebelum baku tembak terjadi, warga sekitar yang berada di radius 100 meter dari rumah kontrakan milik pasangan suami istri Agus dan Tini tersebut dievakuasi petugas. Warga yang ikut diungsikan menutup rapat pintu-pintu dan jendela rumahnya dengan tirai serta mematikan lampu. Warga diungsikan ke area aman di belakang garis polisi yang dipasang sebelumnya. Pemilik warung yang berada di radius itu pun terpaksa menutup warungnya untuk sementara waktu hingga situasi kondusif.

Di dalam aksi pengepungan tersebut, petugas sempat membujuk ketiga teroris untuk menyerahkan diri dan keluar dari persembunyiannya. Namun, ajakan petugas itu justru dibalas serangan. Salah seorang terduga teroris melemparkan sebuah bom ke arah petugas, namun gagal meledak. Tidak hanya itu, dari dalam rumah para pelaku juga mengarahkan moncong senjata api jenis revolver ke petugas.

Merasa terancam, pasukan Densus lantas melepaskan tembakan ke arah pelaku. Omen, Irwan, dan Helmi tumbang dan langsung meregang nyawa terkena pelor panas petugas. Ketiganya tewas di dalam rumah kontrakan yang baru ditempati selama 20 hari itu.

Tidak berselang lama dari baku tembak tersebut, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian langsung mendatangi lokasi kejadian. Dengan pengawalan ketat, Tito didampingi Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M. Iriawan menuju rumah kontrakan yang dijaga ketat pasukan Densus, Brimob, dan anggota kepolisian Polda Metro Jaya.

Usai melihat lokasi kejadian, Tito langsung menggelar konferensi pers tidak jauh dari rumah kontrakan tersebut. Tito mengatakan, operasi penggerebekan itu berdasarkan pengembangan operasi penangkapan Dian Yulia Novi di sebuah rumah kos di Jalan Bintara Jaya VIII, Kelurahan Bintara Jaya, Kecamatan Bekasi Barat, Kota Bekasi, pada Sabtu (10/12).

123
Komentar
Kirim Komentar