16 Des 2016 08:14

Awas Banjir Bandang 2014

MyPassion
TERKEPUNG: Sejumlah kelurahan di Kota Manado mengalami banjir akibat hujan yang mengguyur sejak sore hingga malam hari. Foto: Reza Mangantar/MP

MANADO — Waspada. Banjir Bandang yang menimpa Kota Manado pada 2014, bisa saja terulang. Kemarin, Kota Tinutuan dikepung banjir. Hujan deras mengguyur sejak pukul 18.00 Wita sampai pukul 21.30 Wita. Sejumlah titik mengalami banjir (lihat grafis, red). Di Kelurahan Ternate Tanjung Kecamatan Singkil dan Kampung Tubir Kecamatan Paal Dua, masyarakatnya harus mengungsi. Akibat air yang sudah naik hingga 1,5 meter. Dari pantauan, selain dua kelurahan itu, warga di Kecamatan Sario, juga was-was.

Khusus di Kelurahan Sario Kotabaru Lingkungan III, air merendam rumah warga, sekira setengah sampai 2 meter. Daerah ini dilewati sungai dari daerah Tomohon. Puluhan rumah warga terendam air sejak jam 9 malam. Terlihat warga sibuk membersihkan rumahnya. “Aliran sungai di sini sangat sempit. Kalau hujan sedikit saja sudah meluap,” sebut salah satu warga, Ronal Najoan.

Berbeda di Kelurahan Ternate Tanjung. Para warga di lingkungan 1 dan 2, sudah melakukan pengungsian. Seperti dikatakan Lurah Ternate Tanjung Ramli Labatjo. Sekira 140 rumah sudah terendam air. “Ini tersebar di dua lingkungan,” kata Ramli. Saat ini warganya sudah melakukan pengungsian. “Warga mengungsi di masjid dan gereja terdekat. Namun hanya perempuan dan anak-anak. Sebab para pria berada di rumah, untuk mengamankan harta bendanya,” terangnya sembari menambahkan, pemerintah kelurahan sudah meminta warga waspada sebelum banjir terjadi. Untuk meminimalisir korban dan kerugian materiil.

Ditambahkan warga lingkungan 3 Kelurahan Ternate Tanjung Rohani Akuba, air sangat cepat masuk ke rumah. “Sudah dari jam 9 malam,” katanya, ketika ditemui tadi malam. Dia menambahkan hanya sebagian barang yang sempat diselamatkan. “Rencananya akan tidur di masjid. Sebab masih takut ketika ada banjir susulan,” katanya.

Seluruh pihak melakukan koordinasi untuk memantau banjir. Seperti terlihat di Jembatan Megawati. Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Sulut memantau keadaan arus sungai. Ini dikatakan Ketua 1 RAPI Sulut Aswan Idrak. “Jadi seluruh personil RAPI saat ini tengah memantau. Baik di Manado, maupun kabupaten/kota yang lain, untuk membantu pemerintah juga,” katanya.

Di sisi lain, curah hujan yang cukup tinggi beberapa pekan terakhir ini memang secara langsung mempengaruhi kondisi debit air sungai. Menurut informasi dari penjaga pos pemantau air Kelurahan Dendengan Luar Epy Mona, ketinggian air sudah naik sekira 270 cm. Ini memasuki zona bahaya. Sudah lebih 300 cm dari debit normal air. “Selain debit air naik, arusnya cukup kencang,” terangnya. Ini patut diwaspadai, sebab debit air dapat naik tiba-tiba. “Sekira setiap 20 menit, debit air meningkat 20 cm,” ungkap Mona. Kemudian, lanjut Mona, ketinggian air tergantung dengan curah hujan di daerah Kabupaten Minahasa.

Dia melanjutkan, hal ini dapat terlihat material yang dibawa air. “Dari pantauan kami, terlihat batang kayu dan eceng gondok terbawa arus. Biasanya ini menjadi pertanda air masih akan terus meningkat,” terangnya sembari menambahkan warga di sekitar pos pemantau sudah melakukan pengungsian.(rev/din/gel)

Kirim Komentar