30 Nov 2016 12:52

Dilarang Berpolitik di Mimbar Gereja

MyPassion
Ilustrasi

MANADOPOST— Gara-gara pemilihan bupati (Pilbup) di Kabupaten Kepulauan Sangihe periode 2017-2022, ada hubungan keluarga renggang. Dari penelusuran wartawan koran ini, satu darah ada yang 'saling serang', hanya karena beda pilihan. Bukan hanya di keluarga, virus Pilbup mewabah di Kelompok Wilayah Pelayanan (KWP), pelayanan pria kaum bapa, pelayanan kaum ibu, lanjut usia dan pemuda.

Bahkan sampai ada penatua, lantang memfitnah calon lain demi memuluskan jagoannya. Karena fenomena tersebut, Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMJ) GMIST mengeluarkan surat penggembalaan ke gereja-gereja dan melarang keras mimbar  pelayanan GMIST dijadikan tempat kampanye pasangan calon bupati dan wakil bupati (Wabup). "Kalau pun ada majelis jemaat penatua maupun diaken yang terlibat dalam dunia politik, diistirahatkan. Tidak boleh naik mimbar sampai Pilbup selesai. Demi kemurnian kesaksian pemberitaan firman kepada jemaat," tegas Ketua Sinode GMIST Pdt Patras Madonsa Sth.

Menurut Madonsa, Pilbup adalah kegiatan sesaat. Jangan karena kegiatan sesaat hubungan kekeluargaan dan pelayanan jadi rusak. Sebab siapapun yang menjadi bupati, kata Madonsa, nantinya adalah bupati semua jemaat. "Saya mengajak jemaat menjaga perdamaian dan kerukunan dalam keluarga, pelayanan dan umat beragama. Supaya tidak salah menjatuhkan pilihan warga jemaat berdoa untuk minta pertolongan Tuhan siapa yang layak menjadi Bupati dan Wabup Kabupaten Kepulauan Sangihe," ajaknya.

Selain di lingkungan masyarakat, Pegawai Negeri Sipil (PNS) juga terjadi perpecahan. Karena itu, Penjabat Bupati Kepulauan Sangihe Drs JH Palandung MSi, mengajak PNS di Kepulauan Sangihe bersatu. Jangan sampai terkotak-kotak. "Sebab kalau terkotak-kotak pembangunan di Kepulauan Sangihe tidak akan berjalan dengan baik,"tandasnya.(ite/gel)

Kirim Komentar