19 Nov 2016 11:30

Pemprov Siapkan 40 Ribu Bibit Kelpa

MyPassion
Ilustrasi

MANADO—Bumi Nyiur Melambai melekat sebagai julukan Sulut yang dipenuhi pohon kelapa. Sayangnya, komoditi yang dulu menjadi primadona itu kini terpinggirkan. Para petani kelapa mulai beralih ke sektor usaha lain.

Kepala Dinas Perkebunan Recky Tumandoek tak menampik. Menurunnya produktivitas dan benefit usaha pengolahan kelapa menjadi penyebab. Diakuinya, peran pemerintah harus ditingkatkan.

“Pemanjat kelapa saja sudah jauh menurun. Dulu hampir semua masyarakat di desa tahu cara memanjat kelapa. Ketertarikan mereka juga tinggi karena upah yang menggiurkan, tapi semuanya sudah beda,” ujarnya, Rabu (17/11).

Meningkatnya impor dari luar turut membantu pelemahan industri kelapa. Olehnya, Pemprov Sulut sedang menyiapkan pengolahan produk kelapa terpadu. Penataan industri kelapa mulai dari petani hingga ke perusahaan pembeli hasil perkebunan kelapa. “Hak Guna Usaha akan difasilitasi pemprov. Semua unsur mulai dari batang pohon, daun hingga buah akan dilakukan penataan pengolahannya,” jelasnya.

Nantinya, harga jual hasil olahan bisa naik. Lanjut dia, di tahun depan, pihaknya telah mengalokasikan anggaran senilai Rp 600 juta untuk peremajaan pohon kelapa. 40 ribu bibit pohon disiapkan untuk disalurkan di semua kabupaten/kota se-Sulut.

Dijelaskannya, lahan kelapa di Sulut kmencapai 275 ribu hektar. Akibat pengolahan kurang tepat banyak lahan yang justru tidak berproduksi dengan baik. Pemanjaat pohon yang kurang akan diakali dengan penyediaan alat bantu panjat. “Hingga kini Sulut masih menjadi daerah dengan lahan terluas kedua di Indonesia setelah Riau. Minsel dan Minut mendominasi luas lahan di Sulut. Kalau sudah terpadu lahan-lahan tersebut akan dapat dimaksimalkan,” ungkap dia.(cw-01/can)

Komentar
Kirim Komentar