13 Okt 2016 13:27
Warga: Sudah Berulang Kali

Oknum Guru Diduga Aniaya Pelajar SMP

MyPassion
Ilustrasi

MANADOPOST—Kekerasan kembali mengintai anak sekolahan. Informasi didapat, dugaan penganiayan terjadi di SMP Satu Atap (Satap) Tanaki Kecamatan Siau Barat Selatan (Sibarsel), terhadap seorang pelajar. Pelaku adalah oknum guru wali kelas dengan inisial IS alias Iren.

Tak hanya pemukulan, informasi lain yang berhasil dirangkum juga menyebutkan oknum guru tersebut menghukum anak didiknya itu dengan cara disuruh jalan 'bebek'. Padahal sebelumnya, siswa tersebut telah dihukum dengan cara dipukul dengan menggunakan gagang alat angkat sampah (skep) oleh guru tersebut.

Menurut penuturan sejumlah warga, insiden ini ditengarai hanya karena persoalan sepele. “Siswa tersebut ingin minta izin ke kepala sekolah. Tapi saat sedang menunggu, ibu guru itu datang dan meneriaki. Setelah diteriaki, langsung tindakan pemukulan dilakukan. Selain itu disuruh jalan bebek,” beber para warga yang tinggal di seputaran sekolah.

Mengenai perilaku tak wajar dari sang guru, menurut warga bukan baru kali ini. Sikap kasar dan arogan oknum guru itu telah beberapa kali terjadi. “Kejadian sekarang ini bukan hal baru, sebelumnya sudah pernah terjadi pada siswa yang lain,” kata warga lagi.

Saat coba dikonfirmasi, pihak sekolah masih enggan memberikan komentar. Seorang guru mengungkapkan, sekolah akan mencari tahu kebenaran informasi tersebut. “Nanti disampaikan ke kepsek. Kepsek sedang keluar,” ungkapnya sembari merahasiakan identitasnya.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Robeth Kahiking SPd MM ketika dikonfirmasi Rabu (12/10) kemarin, menyatakan belum bisa memastikan soal sanksi. Ia mengatakan, pihaknya akan menindaklanjuti informasi ini guna memastikan kebenarannya. “Jika memang terbukti sudah dipastikan akan diberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku. Meski memang disayangkan kalau sampai adanya pemukulan apalagi sampai di hukum seperti hukuman di militer. Kan tak dibenarkan ada hukuman sampai terjadi pemukulan terhadap apapun yang dilakukan siswa ," tegas Kahiking.

Sementara itu, Aktivis Muda Frits Narasiang mengungkapkan, kekerasan dilakukan bukan untuk menyakiti siswa tapi pasti untuk kebaikan siswa. “Tapi sekarang sudah ada aturan untuk guru yang mendidik anak siswa tidak boleh dengan kekerasan. Pemerintah daerah harus lebih memperhatikan hal seperti ini,” pungkasnya.(tr-01gnr)

Kirim Komentar