30 Sep 2016 08:12

Salah Olah, BAHAYA!

MyPassion

IKAN bakar. Sungguh nikmat disantap ketika baru saja diangkat dari tempat pembakaran. Apalagi disantap bersama dabu-dabu. Panas, pedas, lezat. Heemm, membacanya saja sudah bikin lapar.

Seiby Lowing, salah satu penggila kuliner ini. Dalam seminggu, tak kurang dari tiga kali mendatangi rumah makan ikan bakar di kawasan Pasar Bersehati, Manado. Pilihannya, ikan tindarung dan tuna. "Biasanya saya pilih yang ukuran besar," tutur perempuan 24 tahun itu. Setelah itu, ikan diproses dan diolah tukang bakar.

Tapi ternyata, kebiasaan Lowing ini, tanpa sadar bisa berakibat buruk. Merson Pakaya menuturkan, konsumsi ikan bakar secara berlebihan dapat beresiko bagi kesehatan. Bukan ikannya, tapi cara pengolahannya. Letak bahaya terletak pada proses pembakaran menggunakan arang hitam. Asap yang dihasilkan bara akan memapar ikan dengan zat karsinogen. Zat ini adalah penyebab kanker. “Bahaya bila dikonsumsi sering dan terus menerus,” ungkapnya. Bukan tidak boleh. Hanya, jangan terlalu sering. Anjuran ahli gizi, idealnya dua kali dalam seminggu.

Selain dibakar, olahan dengan cara digoreng juga berbahaya. Zat karsinogen juga akan dihasilkan pada minyak jelantah atau minyak yang digunakan berulang kali. Bukan hanya ikan. Jenis makanan lainpun berpotensi terpapar zat karsinogen bila prosesnya dibakar dengan bara atau digoreng menggunakan minyak jelantah.

Tentunya, ikan bisa dinikmati dengan cara olahan apapun. Dalam dunia gizi ada yang disebut makanan seimbang, yakni makan dengan menu dan proses pengolahan yang variatif. “Hari ini bakar, besok kuah, goreng, rebus dan lain sebagainnya. Jadi mengkonsumsi menu yang berbeda,” kata Pakaya. (*)

Kirim Komentar