24 Sep 2016 09:33
Seleksi 20 Besar Zetizen National Challenge Sulut

Berjualan Kue, Beatbox, Hingga Story Telling

MyPassion
DUNIA MAYA: Penjurian juga dilakukan secara online karena salah satu kandidat Reynaldo Montolalu berasal dari President University. Foto: Fauziyyah/ZetizenMP

Zetizen National Challenge Go To New Zealand Sulawesi Utara (Sulut) masuk tahap penjurian 20 besar. Selama tiga jam lebih, 20 member Zetizen dengan aksi terbaik tampil pol-polan di depan para juri, kemarin (23/9) di Graha Pena Manado Post. Di balik tegangnya suasana penjurian, terselip beragam cerita menarik dari para peserta. 

TIAP orang punya impian. Tapi tak semua impian bisa diwujudkan. Salah satu kontestan top 20, Anggia Kloer ternyata berhasil menggenggam mimpinya sejak kecil dan dibangkitkan. Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi ini sudah terbiasa nonton upacara di televisi. "Dari situ saya jadi tertarik untuk menjadi Paskibra (pasukan pengibar bendera, red)," paparnya di depan para dewan juri.

Perempuan 18 tahun ini pun menjelaskan tentang aksi positif yang sudah dilakukannya. "Menjadi Paskibra itu bisa membangkitkan jiwa nasionalisme. Apalagi banyak generasi Z yang semakin malas ikut upacara," jelas perempuan yang pernah menyabet Wakil 1 Lumimuut 2015 tersebut.

Anggia tak sendiri. Penjelasan aksi positif dari kontestan lain juga tak kalah memukau. Tak heran, Dr Valentino Lumowa (Dosen Filsafat Unika De La Salle Manado), Gabriella Rompis (pebisnis muda) dan Cesylia Saroinsong (Pemimpin Redaksi Manado Post) yang menjadi kunci penentu langkah kontestan ke babak lima besar, ikut dibuat bingung.

20 Zetizen yang terpilih kali ini juga merupakan pelajar yang aktif dan berprestasi. Ada yang menjadi Remaja Teladan GMIM, pemenang lomba model hingga duta daerah. "Saya bisa akting, jadi presenter, modeling dan menyanyi," tutur Clinton Walean.

Siswa SMAN 1 Kawangkoan ini yakin berbagai prestasi akademik dan non-akademik yang diraihnya mampu menyebarkan semangat positif di lingkungan sekitar. Pelita muda lainnya bernama Chrystosimus Ompi. Pelajar SMAN 1 Manado ini yakin, lewat terjun dalam kegiatan kerohanian dapat menjadi inspirasi bagi anak muda lainnya.

123
Kirim Komentar