24 Agu 2016 07:53

Memahami “Bughot” di PPP

MyPassion

Oleh: DR. H. Humphrey Djemat, SH, LLM

Wakil Ketua Umum DPP PPP

MANADOPOST-Tanggal 5 Januari 1973. Ini hari yang bersejarah bagi Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Hari itulah di deklarasikan sebuah partai yang berbasis Islam di Republik Indonesia. Kala itu era Orde Baru. Rezim militer hampir menguasai dan mengontrol perpolitikan. Pemerintahan Orba menerapkan agar Partai politik tak perlu banyak. Alhasil partai-partai Islam berfusi menjadi satu. Ada empat hasil fusi politik Partai Islam, ketika pemerintahan Orba menghapuskan multi partai. Keempat fusi politik itu yakni Nahdlatul Ulama, Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), Partai Syarikat Islam (PSII) dan Partai Islam Perti. Fusi ini menjadi simbol kekuatan PPP.

Sejumlah tokoh umat dan politik mendeklarasikan PPP, setelah terjadinya fusi politik itu. Para deklarator itu adalah KH. Idham Chalid (ketua umum PB NU), H Mohammad Syafaat Mintaredja, SH (Ketua umum Parmusi), Haji Anwar Tjokroaminoto (Ketua umum PSII), haji Rusli Halil (Ketua Umum Partai Islam Perti), dan Haji Masykur (Ketua Kelompok Persatuan Pembangunan di Fraksi DPR).

Yang menarik, para deklarator partai ini mengajarkan bagaimana bersikap saling ikhlas. Tak ada rebutan jabatan ketua umum yang berdinamika tinggi. Dari hasil musyawarah, Haji Mohammad Syafaat Mintaredja didapuk sebagai ketua umum PPP kali pertama. Padahal kala itu ditubuh PPP berdiam puluhan organisasi berbasis Islam. Tapi kelegowoan yang dipertontonkan para deklarator kini menjadi pelajaran penting.

PPP kemudian berdaulat menjadi berazas Islam. Lambang partai adalah Ka’bah, simbol penting dalam umat Islam. Namun gejolak politik berlangsung di tahun 1984. Kala politik Orba memainkan kediktatorannya. Secara “paksa” PPP harus merubah azasnya. Dan mengganti lambang partai menjadi bintang bersegi lima. Namun umat tetap berharap bahwa inilah rumah besar umat Islam, sebagaimana didirikan mula. 

Pasca lengsernya Presiden Soeharto, tanggal 21 Mei 1998, PPP kembali ke khittahnya. Lambang partai kembali menjadi Ka’bah dan azas kembali pada Islam. Ini ditandai dalam Pasal 5 Anggaran Dasar PPP di tetapkan dalam Muktamar VII Bandung tahun 2011. Disebutkan: “Tujuan PPP adalah terwujudnya masyarakat madani yang adil, makmur, sejahtera lahir batin, dan demokratis dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila di bawah rida Allah Subhanahu Wata’ala.” Asas ini menjadi sangat penting. Untuk menekankan bahwa inilah partai yang masih tetap memperjuangkan umat dan menjadi rumah besar Umat Islam.

Sebagai partai yang berazas Islam, tentu sendi-sendi Islam harus dikedepankan. Jika mendahulukan unsur hawa nafsu, inilah yang berakibat kebathilan bakal menang. Karena para deklarator partai ini, berharap agar PPP mampu terdepan dalam membela umat. Hanya saja kini sangat disayangkan munculnya sejumlah pihak yang tak menampilkan azas Islam yang diusung.

123
Kirim Komentar