18 Jul 2016 08:14
Oleh: MACHSON KANTALE, M.Pd

Tingkatkan Motivasi Mengajar dengan Pendekatan Pembelajaran Learning Trough Mistery Box

MyPassion

Permasalahan sumber daya manusia pada berbagai komponen pembangunan sangatlah dominan. Karena keberhasilan dan kemajuan suatu bangsa turut ditentukan oleh sumber daya manusia yang cerdas, sehat jasmani dan rohani, serta berintegritas. Pendidikan sebagai salah satu elemen dasar dan parameter pembangunan mengalami permasalahan yang sangatlah kompleks dan dinamis, karena dipicu oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang berdampak pada sumber daya guru sebagai manajer pembelajaran. Pembelajaran merupakan nafas dari kegiatan pendidikan pada berbagai jenjang atau tingkatan pendidikan. Undang-Undang R.I. Nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa “Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar”. Proses interaksi tidak hanya disebabkan oleh adanya guru dan siswa, tapi juga sumber belajar atau media pembelajaran, serta pendekatan atau model pembelajaran yang digunakan oleh guru.

Guru menjadi taruhan peningkatan mutu pendidikan melalui proses pembelajaran. Undang-Undang R.I. Nomor 14 tahun 2014 menyatakan bahwa “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru sebagai agen pembelajaran diharapkan mampu mendesain atau menkreasi pembelajaran yang aktif, inovatif dan menyenangkan, sehingga dapat mendorong peningkatan mutu pendidikan melalui kualitas pembelajaran. Akurasi pelayanan guru dalam pembelajaran terhadap siswa menuntut sejumlah persyaratan, tidak hanya menuntut bagaimana guru mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa, tetapi lebih menekankan kepada bagimana siswa belajar. Pembelajaran tidak hanya terpusat kepada bagaimana guru membentuk pengetahuan untuk ditransfer kepada siswa, tetapi bagimana siswa mampu dan dapat membangun pengetahuan sendiri melalui bimbingan guru. Pernyataan tersebut sesuai dengan pendapat Dr. Max Gustaaf Ruindungan bahwa “Jika pembelajar ((learner) tidak dapat belajar dengan cara kita mengajar, kita harus mengajar dengan cara mereka belajar”. Pendapat tersebut didasarkan dari pandangan teori konstruktivisme dalam pembelajaran yang menekankan pada bagaimana pengetahuan itu diperoleh dan terbentuk oleh pembelajar. Lebih lanjut Dr. Max Gustaaf Ruindungan menyatakan bahwa konstruktivisme adalah suatu paham yang menganggap bahwa pembelajar membentuk dan mengembangkan sendiri pengetahuan atau konsep secara aktif berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya sendiri. Pendapat tersebut bertolak dari pandangan teori belajar konstruktivisme yang dikemukakan oleh Bruner (1960) bahwa pembelajaran merupakan satu proses dimana pembelajar mengembangkan ide baru atau konsep berasaskan kepada pengetahuan yang diperoleh sebelumnya. Pendapat Dr. Max Gustaaf Ruindungan dan Bruner menekankan kepada peran aktif atau pelibatan siswa dalam proses pembelajaran melalui peran guru sebagai fasilitator dan mediator dalam pembelajaran.

SMA Negeri 1 Kakas sebagai suatu institusi pendidikan mengalami permasalahan dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru-guru. Berdasarkan hasil pengamatan dan supervisi kepala sekolah terhadap beberapa guru mata pelajaran yang termasuk rumpun ilmu sosial diperoleh data bahwa rata-rata guru dalam kegiatan inti pembelajarn hanya mendapat nilai 1 atau 2, yang jika dikonversi berada pada kategori kurang dan cukup. Guru-guru mengajar masih menggunakan cara konvensional, daya kreatifitas siswa kurang, siswa kurang aktif, dan hasil belajar siswa berada pada rentang nilai 45 sampai 70 di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM).

Permasalahan tersebut menuntut perhatian kepala sekolah untuk melakukan bimbingan terhadap guru-guru, terutama dalam hal mencari dan menemukan pendekatan pembelajaran yang relevan dengan rumpun ilmu sosial dan dapat memicu dan memacu kreatifitas dan keaktifan siswa serta diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar. Pendekatan pembelajaran sebagai karya inovasi untuk membimbing dan membantu guru dalam pelaksanaan pembelajaran adalah dengan menggunakan pendekatan Learning Trough Mistery Box, pada guru mata pelajaran sejarah, geografi dan sosiologi. Sehingga mendorong kepala sekolah untuk menulisnya dalam sebuah karya Best Practice, dengan judul “Meningkatkan Motivasi Guru Dengan menerapkan Pendekatan Learning Trough Mistery Box.

Jenis Kegiatan

Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, diketahui bahwa masalah yang ingin diatasi dan dituntaskan adalah bagaimana guru mengajar dengan menggunakan model pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi mengajar guru dan berdampak terhadap daya kreatifitas dan keaktifan siswa sehingga akan mendorong peningkatan hasil belajar. Oleh sebab itu sebagai kepala sekolah melakukan bimbingan terhadap guru-guru melalui bimbingan kelompok terfokusuntuk meningkatkan motivasi mengajar dengan menggunakan pendekatan pembelajaran Learning Trough Mistery Box.

 Manfaat

Manfaat dalam penulisan Best Practice ini adalah sebagai berikut:

Bagi Sekolah

  1. Mendorong peningkatan kompetensi dan keprofesionalan guru, terutama dalam memberikan layanan pembelajaran yang berkualitas terhadap siswa
  2. Memiliki guru-guru yang kreatif dan inovatif dalam menggunakan  pendekatan pembelajaran.
  3. Meningkatkan hasil belajar siswa
  4. Meningkatkan kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan bagi lulusan (output) sekolah.

 

Bagi kepala sekolah

  1. Untuk memperoleh deskripsi tentang keterlaksanaan penerapan pendekatan pembelajaran Learning Trough Mistery Box melalui mengajar guru-guru rumpun mata pelajaran ilmu-ilmu sosial.
  2. Memotivasi guru-guru melakukan dan mengagas ide-ide inovatif dalam pembelajaran, termasuk  dalam menemukan pendekatan pembelajaran.

Bagi Guru

  1. Melatih dan membiasakan guru-guru mengatasi masalah-masalah dalam proses pembelajaran, yang selalu tertuju pada pembelajaran konvensional.
  2. Memotivasi dan melatih guru menggunakan pendekatan pembelajaran relevan dengan kemampuan berpikir siswa.
  3. Meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar.

Bagi Siswa

  1. Membangkitkan semangat belajar melalui pendekatan pembelajarn Learning Trough Mistery Box.
  2. Mendorong partisipasi aktif melalui kerjasama minimal 2 dan maksimal 3 orang dalam setiap kelompok.
  3. Mendorong penyelesaian masalah yang terdapat dalam kotak (box) secara tepat.
  4. Meningkatkan hasil belajar.

123
Komentar
Kirim Komentar