23 Jun 2015 05:21

Pemerintah Yang (Kurang) Berdaya

MyPassion

                                                                            Rhenald Kasali

          Akademisi, praktisi bisnis dan guru besar bidang Ilmu manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

BAGI Anda yang kerap bermobil dinihari hingga menjelang pagi, sesekali bolehstay tunedi salah satu radio swasta. Di sana kita bisa mendengar bagaimana rakyat mengomentari berbagai isu yang dilontarkan oleh pengelola radio.

Senin lalu (15/6), misalnya, mereka memberikan komentar soal rencana pemerintah untuk mengeluarkan Perpres tentang Pengaturan Harga Pangan. Perpres ini menjadi penting setidak-tidaknya karena dua hal. Pertama, lahirnya perpres ini merupakan amanat UU No 4 Tahun 2014 tentang Perdagangan. Kedua, kita memasuki Ramadan.

Anda tahu tradisi Ramadan di negara kita, bukan? Meski ini sejatinya menjadi bulan yang tepat untuk menahan diri, menahan hawa nafsu, celakanya tidak terjadi untuk belanja. Bahkan, untuk bahan pokok sekalipun.

Itu sebabnya, harga-harga selama Ramadan justru naik. Beberapa malah melonjak gila-gilaan. Harga telur naik dari Rp20.000 menjadi Rp 22.000per kilogram. Harga ayam potong dari Rp 38.000 menjadi Rp 45.000. Begitu pula harga daging sapi dari Rp 90.000 menjadi Rp 110.000. Itu yang naiknya bisa kita bilang wajar.

Ada juga yang lebih pas disebut melonjak. Contohnya, harga bawang merah dari Rp 20.000 per kilogram menjadi Rp 35.000. Harga cabai keriting dari Rp 20.000 menjadi Rp 40.000.

Macan Ompong

Itulah realitas di lapangan. Maka, ketika pemerintah mengeluarkan Perpres tentang Pengaturan Harga Pangan –sementara harga-harga sejumlah bahan pokok sudah naik duluan–, rasanya jadi menggelikan. Apalagi fenomena semacam itu tak hanya terjadi setahun atau dua tahun belakangan, melainkan lebih dari belasan tahun. Begitu terus, selalu berulang.

Selama Ramadan, pemerintah menegaskan ingin mengendalikan harga pangan. Di lapangan, kenyataannya harga-harga terus bergerak di luar kendali. Maka, tak heran kalau komentar dari para pendengar di radio tadi terkesan pesimistis.

Apa bisa perpres tersebut mengendalikan harga pangan? Jangan-jangan hanya menjadi macam ompong. Dan jangan-jangan ada variabel yang belum kita sentuh. Jangan-jangan pula itu adalah hak rakyat untuk menangguk untung dan konsumennya cuma ribut di mulut. Toh, belanjanya naik terus.

Kita tahu, eksekutor lapangan dari perpres tersebut adalah Kementerian Perdagangan. Instansi inilah yang bakal mengecek sejauh mana pergerakan harga pangan di pasar-pasar. Jadi, ini ibarat pertarungan antara aparat birokrasi dan para pelaku pasar. Tetapi, ada juga sebagian di antara mereka yang berperan sebagai spekulan yang mempunyai jaringan kuat.

Kali ini, nah, dengan bekal perpres tadi, siapa yang bakal menjadi pemenangnya? Mudah bukan menduganya.

Bayangkan saja begini. Aparat birokrasi kita, para pegawai negeri sipil yang gajinya pas-pasan, pukul 08.00 mungkin sudah masuk kantor. Tapi,masih banyak di antara mereka yang tidak langsung kerja, melainkan mencari sarapan dulu entah di kantin-kantin atau warung-warung. Selesai sarapan, mereka minum kopi sambil merokok.Ngobrol santai. Ini bisa menghabiskan waktu sampai satu jam, beberapa bahkan lebih.

Ritual berikutnya masuk ke tempat kerja dan membaca surat kabar atau majalah. Lalu,ngobrollagi mengomentari berbagai hal yang dimuat di surat kabar. Pukul 10.00 mungkin mereka baru mulai secara efektif bekerja.

Menjelang pukul 12.00, mereka sudah sibuk memikirkan bakal makan siang di mana. Lalu, pukul 12.00 pergi makan siang dan kembali lagi ke kantor sekitar pukul 13.30.Setelah bekerja sekitar dua jam, mereka siap-siap untuk pulang. Haruson time kalau tidak bisa ketinggalan bus. Entah bus angkutan umum atau bus kantor.

Dengan pola perilaku semacam itu, bagaimana mungkin aparat birokrasi kita mengimbangi lawannya, rakyat pedagang dan spekulan, yang sejak dini hari –ketika kita masih terlelap dalam mimpi– berada di pasar. Lalu, sebagian besar transaksi di pasar-pasar juga sudah berlangsung ketika matahari mulai merangkak naik.

Sementara itu, pada jam-jam tersebut, aparat kita baru bersiap-siap melakukan operasi pasar. Mereka berkoordinasi dulu, kumpul-kumpul, dan mengecek apakah para wartawan yang bakal diajak mengikuti operasi pasar sudah datang. Setelah lengkap, baru mereka berangkat.

BUMN-BUMD Yang Bertarung

Kalau desain, remunerasi, dan strukturnya seperti ini, birokrasi kita tak akan pernah sanggup memenangkan persaingan dengan para spekulan yang lincahnya bukan kepalang. Sekali lagi, tak akan pernah! Sejak kapan harga-harga sejumlah bahan pokok turun, atau katakanlah stabil, semasa Ramadan? Tidak pernah, bukan?

Aparat birokrasi kita memang tak pernah didesain untuk bertarung di lapangan. Apalagi melawan para pelaku pasar. Mereka tak punya energi dan motivasi untuk melakukannya.

Maka, mekanisme pasar harus dilawan dengan mekanisme pasar. Pebisnis harus dilawan dengan pebisnis. Itu baru sebanding. Jadi, jangan minta aparat birokrasi kita untuk bertarung. Serahkan urusan tersebut ke BUMN-BUMN atau BUMD-BUMD kita. Biarkan mereka yang bertarung. Kita punya Perum Bulog.          

Mengapa kita tidak memanfaatkan habis-habisan perusahaan umum itu untuk bertarung menghadapi ulah spekulan. Jangan malah digembosi.

Sekali-sekali bolehlah kita berharap pemerintah memberi kita THR dalam bentuk harga-harga bahan pokok yang stabil. Syukur kalau bisa turun. Dan, kita tak akan lelah berharap. (*)

Komentar
  • MyPassion

    slither io
    19 Okt 2017 19:07

    Thanks for your post! Through your pen I found the problem up interesting! I believe there are many other people who are interested in them just like me! Thanks your shared!... I hope you will continue to have similar posts to share with everyone! I believe a lot of people will be surprised to read this article! slither io
  • MyPassion

    nyeri HATEEEEEEEE!
    19 Okt 2017 14:40

    thank you very useful information admin, and pardon me permission to share articles here may help : Penyembuhan jerawat kronis Ahlinya ginjal Ahlinya pengobatan herbal
  • MyPassion

    lisa
    09 Okt 2017 13:54

    Thank you for giving them this great knowledge, really thank you for sharing, hope you will have such great posts as this more. slither io
  • MyPassion

    usps tracking
    04 Okt 2017 17:06

    Yes, the article I was looking for. Your article gives me another approach on the subject. I hope to read more articles from you. usps tracking
  • MyPassion

    Kumar
    08 Sep 2017 20:53

    Rhenald Kasali is my favorite scientist in the whole universe. His researches changed the view of point in lots of peoples brain. alltraingames.com
Kirim Komentar