12 Feb 2015 05:39
Merah-Putih Peristiwa Heroik yang Dilupakan?

Soekarno: 14 Februari Hari Sulawesi Utara

MyPassion
Tenni Assa

PERISTIWA perebutan kekuasaan terhadap NICA (Nederlandsch Indië Civil Administratie atau Netherlands-Indies Civil Administration,  Pemerintahan Sipil Hindia Belanda) yang ditandai dengan dikibarkannya bendera Merah Putih di Tangsi Militer Belanda KNIL (Koninklijke Nederlands Indische Leger, Tentara Kerajaan Hindia Belanda) di Teling pada 14 Februari 1946 tak banyak diketahui lagi oleh anak-anak muda Sulawesi Utara (Sulut) sekarang ini. Apalagi ketika ditanya siapa itu Bernard Wilhem Lapian, Letkol Ch Ch Taulu dan Sersan SD Wuisan, mereka semakin bingung. Dalam suatu percakapan dengan sejumlah anak sekolah (SMA) plus mahasiswa, mereka justru hanya mengenal 14 Februari sebagai Hari Valentine.

Mungkin bukan hanya anak muda. Bisa juga di kalangan pejabat ataupun stakeholder di daerah ini masih ada yang belum mengetahui peristiwa heroik ini. Fenomena ini memang sangat memprihatinkan. Dan ini pun bisa dimaklumi karena catatan sejarah peristiwa ini dalam buku sejarah Indonesia yang dipelajari di sekolah-sekolah sangat kurang. Kalau pun ada hanya dalam hitung alinea jika dibandingkan dengan Pertempuran di Surabaya pada 10 November 1945 yang dikenal dengan peringatan Hari Pahlawan. Atau peristiwa Bandung Lautan Api 24 Maret 1946, di mana para pejuang rela membumihanguskan Bandung ketimbang harus diserahkan kepada NICA.

Padahal Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 sama dengan perjuangan yang dilakukan di seluruh Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamirkan oleh Ir Soekarno dan Drs Mohammad Hatta pada 17 Agustus 1945.

Karena itu Soekarno menilai peristiwa ini sangat besar arti. Tak heran ketika memperingati Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 yang dilaksanakan di istana negara pada 10 Maret 1965, Presiden Soekarno bahkan memaklumkan peristiwa ini sebagai Hari Sulawesi Utara.

Sebab peristiwa ini telah menghebohkan dunia, karena telah disiarkan radio-radio Australia, San Franscisco dan BBC London. Bahkan Harian Merdeka di Jakarta menulis berita tentang ‘’Pemberontakan Besar di Minahasa’’. Peristiwa ini juga menjadi pukulan bagi tentara Sekutu (AS-Inggris-Belanda), karena berdampak pada 8.000 tawanan tentara Jepang di Girian yang harus dideportasikan ke Jepang.

Tak heran jika Peristiwa Merah Putih ini menjadi perhatian khusus Sekutu yang bermarkas di Makassar dengan mengirimkan Letkol Purcell yang didampingi pimpinan NICA-Belanda dan Panglima KNIL Kol Giebel untuk berunding dengan BW Lapian yang ditetapkan sebagai Kepala Pemerintahan Sipil dan Letkol Ch Ch Taulu yang menjadi Komandan Militer yang membawahi Tentara Republik Indonesia Sulawesi Utara (TRISU) di atas Kapal El Libertador.

Tapi karena tidak terjadi kata sepakat, sebab permintaan Sekutu agar BW Lapian dan Ch Taulu mengembalikan kekuasaan kepada NICA ditolak. Akhirnya pada 24 Februari 1946 di Teling-Manado Kolonel Purcell menyatakan tentara Sekutu berperang dengan kekuasaan Sulawesi Utara (Lapian-Taulu).  Karena semua daerah telah diblokade, dan sejumlah tentara KNIL asal Sulut berbalik memihak Belanda akhirnya pada 11 Maret 1946 Pemerintahan Sulawesi Utara (Lapian-Taulu) menyerah kepada Sekutu.

Setidaknya, peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 telah mampu membuktikan bahwa Sulut tetap berada dalam Negara Indonesia, sekaligus mematahkan propaganda Belanda yang menyatakan Proklamasi kemerdekaan hanya untuk Jawa dan Sumatera, karena memang Belanda menguasai Indonesia Timur. Karena itu sudah seharusnya nilai-nilai kejuangan peristiwa ini harus terus ditanamkan kepada generasi muda, sekaligus menjadi pemicu semangat bahwa Sulut bagian dari Republik Indonesia.(*)

Berita Terkait
Komentar
Kirim Komentar