22 Des 2014 09:03
Jadi Penjaga Kedaulatan Bangsa dan Negara

Menjelang Parade Budaya Nusantara dan Musawangnas BMI IV 2015

MyPassion
ORGANISASI ADAT: Apel adat Brigade Manguni di Lapangan Sam Ratulangi Tondano, beberapa waktu lalu.

Maret 2015, Brigade Manguni Indonesia (BMI) akan menggelar Parade Budaya Nusantara dan Musawangnas IV. Nicolas, Tonaas BMI Balikpapan  diberikan mandat sebagai ketua panitia. Jelang kegiatan akbar itu, Manado Post turunkan sejarah singkat BMI.

 

EKSISTENSI BMI dalam kiprahnya sebagai penjaga kedaulatan bangsa dan negara, termasuk penegak keadilan untuk kebebasan beragama, telah dikenal di nusantara.  Sosok pasukan adat andalan yang berdedikasi tinggi, taat dan berjiwa ksatria, patut dialamatkan kepada Brigade Manguni. Sosok personil Ksatria seakan mengingatkan masyarakat di provinsi paling utara Indonesia akan kegigihan dan keunggulan anak-anak Toar Lumimuut dalam membangun bangsa dan menjaga keutuhan negeri yang mereka diami.

Seperti diketahui, Ksatria Manguni lahir dari keinginan anak negeri terhadap rasa aman, rasa tenteram dan damai bagi seluruh warganya yang mendiami bumi Nyiur Melambai yang heterogen. Sabtu 5 Agustus 2000, digelar Kongres Minahasa Raya.

Saat kongres berlangsung, perhatian sebagian orang tertuju ke sekelompok pemuda yang berpakaian serba hitam. Mereka berpakaian seperti sekelompok pasukan terlatih. Pakaian hitamnya ada lambang burung Manguni dikelilingi sembilan (makasiow) bintang. Pasukan hitam-hitam ini dikoordinir oleh Donal Moselman, dkk. Mereka dengan suka rela menjadi “tameng hidup“.

Pemimpin pertama disebut Panglima BM, dipercayakan kepada Dolfi Maringka. Dalam membangun BM yang kokoh dan tangguh, maka dibukalah pendaftaran bagi para pemuda ataupun warga Sulawesi Utara. Lorong Anoa Kelurahan Teling Bawah – Manado, menjadi saksi bisu semakin merambat dan semakin besarnya pasukan sipil berjiwa militer ini.

Tercatat ribuan warga terdaftar sebagai anggota BM. Sementara tokoh pemuda yang giat merangkul kekuatan warga yakni Donal Moselman, tetap gigih melakukan sosialisasi bersama kelompoknya dibawa pimpinan Dolfi Maringka dan Marsel Maramis SH. Pendeknya BM sebenarnya lahir dari kondisi riil masyarakat dalam mengantisipasi berbagai gejolak yang terjadi di luar seperti Ambon, Halmahera, dan Poso.

Untuk itu anak-anak negeri Nyiur Melambai bergegas dan secara bersamaan bergandengan tangan untuk menjaga stabilitas di daerahnya sendiri, serta tidak mau digiring dalam lumpur perang saudara. Memang apabila dilihat secara “de jure“ maka BM pada saat itu belum dianggap sah. Namun secara  “de facto“, BM telah menancapkan kukunya di hati warga Toar Lumimuut, sekalipun ketika itu BM belum memiliki landasan Anggaran Dasar & Anggran Rumah Tangga (AD/ART).

Ksatria Manguni, lahir dari keinginan anak negeri terhadap rasa aman, rasa tenteram, dan damai bagi seluruh warganya yang mendiami bumi Nyiur Melambai yang heterogen. Kisah Lahirnya Ksatria Manguni ini makin kental ketika diselenggarakannya Kongres Minahasa Raya yang dimotori tokoh muda Ir Marhani VP Pua (anggota DPD dari Propinsi SULUT 2 periode 2004-2009 & 2009-2014, di Jakarta).

Seiring dengan perjalanan waktu, harus diakui  bahwa pada era 2001, BM belum begitu nampak alias vacuum. BM semakin merambah saat dilaksanakannya pertemuan awal tahun 2001 di Tomohon, tepatnya di rumah (alm) Mayal Rorimpandey. Pertemuan itu dihadiri Donal Moselman, Pdt Renata Ticonuwu STh, Matulandi Supit SH, Max Togas SH, Robin Sanggor SH, Hongky Lasut, Aldy Lumingkewas, Frangky Kowaas STh, dan Mayal Rorimpandey.

Rapat kelompok kecil tadi akhirnya berlanjut pada pertemuan yang lebih besar, yakni pada 02 Pebruari 2002 bertempat di Home Stay Walian Tomohon. Peserta yang hadir dari Kecamatan (Walak) seperti Tomohon (Renata Ticonuwu cs), Langowan (Mayal Rorimpandey cs), Tondano (Matulandi Supit cs), Tompaso Baru (Erwin Tendean cs), Remboken (Sonny Putong cs), Dimembe (Morits Mantiri cs), Likupang Barat (Buang Manopo cs), Manado (Donal Moselman cs), dan Bitung (Rudolf Wantah cs). Terundang yang hadir Dr Brando Lengkey, Dicky Maengkom, James Karinda SH, dan undangan lainnya. Dalam pertemuan itu, terbentuk Tim 9 (sembilan) yang kemudian akan membawa pada Musyawarah Adat Wangko I Brigade Manguni. Mereka adalah Dicky Maengkom, Donal Moselman, Renata Ticonuwu, Matulandi Supit, Max Togas, Robin Sanggor, Rudolf Wantah, Mayal Rorimpandey, dan Ronny Eman. Dr Brando Lengkey sebagai penasehat tim.

Maka pada 9 Maret 2002, dilaksanakan Musyawarah Adat Wangko I Brigade Manguni dan Ketua Panitia dipercayakan kepada Drs Ronny Eman dibantu Sekretaris Robin Sanggor SH. Pada musyawarah tersebut, terpilih secara demokrasi Dicky Maengkom sebagai Tonaas Wangko BM, Matulandi Supit SH (Sekretaris), Donal Moselman (Deputi Kamtibmas), Pdt Renata Ticonuwu (Deputi Mental & Spiritual), Mayal Rorimpandey (Deputi Perencanaan/Renstra), Max Togas SH (Deputi Infokom), Robin Sanggor SH (Deputi Hukum & Advokasi), Dr Pieter Lumingkewas (Deputi Kesehatan), dan Drs Ronny Eman (Deputi Logistik).

Ketua Penasehat Pdt Prof WA Roeroe MTh, wakil Ketua Dr Brando Lengkey, Ketua Pembina Letjen TNI (Purn) Jhony Lumintang, serta Muspida Provinsi Sulut.

Selain menghasilkan Kepengurusan tingkat Dewan Pimpinan Tonaas Brigade Manguni (DPT-BM) yang baru, Musyawarah ini juga menelorkan butir-butir peraturan yang dikemas sebagai Anggaran Dasar & Anggaran Rumah Tangga (AD&ART) BM. Termasuk berbagai program kerja BM yang dilaporkan ke Pemerintah Provinsi lewat Badan Kesbang dengan Surat Keterangan Terdaftar No : 220/200.626/IV/5-2002. (Selanjutnya AD & ART diamandemen pada Muslub BM November 2002 dan kemudian Pengesahan Notaris  Stientje Ambat SH dengan No 3177/W/2003 Tgl 19 Nopember 2003 & Raker BM 2005, serta terbitnya SK dan Peraturan BM lainnya).

Pertemuan Musyawarah adat Wangko I BM ini dinilai berhasil. Karena selain semakin memperlihatkan kekuatan BM selaku salah satu organisasi kemasyarakatan yang berpayungkan Adat Budaya bukan Agama tertentu, musyawarah ini ikut menghadirkan serta memberikan sambutan para Petinggi Daerah Sulut saat itu yakni Gubernur Sulut Drs AJ Sondakh, Wakapolda Sulut Drs Gordon Mogot, Masyarakat Kawanua Amerika Robert Mewengkang, Konjen Filipina, Wakil Bupati Minahasa Drs Boy Tangkawarouw, Korem 131 Santiago, dan mewakili tokoh agama dan budaya Pdt Prof WA Roeroe serta undangan lainnya.

Dari sinilah BM semakin menunjukkan kekuatan dan semakin melibatkan diri secara terbuka dalam keluarga besar warga Nyiur Melambai dan semakin dekat di hati masyarakat daerah ini. Kiprahnya makin nyata dan menyentuh secara langsung bagi masyarakat daerah ini. Di sini berbagai sosialisasi, konsolidasi dan pertemuan mulai semakin terbuka dan secara kontinyu dilaksanakan ke seluruh penjuru Wilayah Sulawesi Utara dan Provinsi sekitarnya.

Para Tonaas yang dipercayakan mengembangkan tugas dan tanggung jawab BM kedepan, setelah melalui proses musyawarah tingkat daerah, terpilih Tonaas Minahasa (Lendy Wangke), Tonaas Tomohon (Drs Tommy Kaunang) yang sebelumnya daerah ini adalah Walak Tomohon (Syenie Watulangkow), Tonaas Minahasa Selatan (Yung Setiawan kemudian digantikan Drs Harry Masinambow).

Para Tonaas tidak saja di daerah ini karena di luar daerah Sulut juga dibentuk Kepengurusan BM seperti Tonaas di Halmahera/Maluku Utara (Ben Doro), Tonaas Jabodetabek (Jhony Kanter kemudian dipercayakan kepada Drs Fredy Maramis (Alm). Tonaas Korwil Kalimantan (Farry A Malonda), Tonaas Balikpapan (Drs Joutje Rumambi), Tonaas Samarinda (Johan Langoi), Mandataris BM Jawa Timur & Bali (Marten Rondonuwu), Tonaas Koorwil Sulawesi Tengah (Yahya Sigarlaki), Mandataris BM Palu (Jemmy Pangau), BM Bali (Yunus Soesilo & Refly Suwu), BM Sulsel (Iwan Wurara), BM Papua (Albert Bolang SH MH), dan BM Batam (Ronny Wawo).

Dalam perjalanan waktu yang diiringi berbagai situasi dan gerak pembangunan, BM masih tampil prima dan eksis di Nyiur Melambai, hingga melebarkan sayap keluar daerah. BM tampil sebagai salah satu penjaga nilai-nilai luhur adat daerah dan merupakan alat perekat seluruh komponen di daerah  ataupun di luar daerah,  untuk tetap hidup rukun dan damai di bawah payung budaya demokrasi dan saling menghargai satu dengan yang lainnya dalam bingkai NKRI. (myw/bersambung)

Kirim Komentar