16 Nov 2014 03:20
(Masihkah Bumi Indonesia Milik Kita)

ERUPSI OLIGARKI

MyPassion

Oleh

Dr Benedicta J.Mokalu MSi

(Sosiolog Unsrat)

 

ERUPSI bahasa Inggris eruption (meledak,meletus). Dalam bahasa Indonesia diidentikkan dengan gunung meletus. Sifat erupsi bisa meluluhlantahkan juga memberi kehidupan baru. Secara harafiah oligarki ialah nafsu berkuasa dengan mengabaikan semua tata aturan,norma hukum,tradisi,juga punya semangat juang,tidak muda menyerah sebelum mencapai tujuan. Dalam tulisan ini makna kata ‘erupsi oligarki’ secara sengaja disinonimkan dengan sifat positif manusia Indonesia (mudah-mudahan tidak keliru),yakni; “punya etos kerja, penuh semangat, punya daya juang,musyawarah mufakat, disiplin, mandiri,berani berbeda,meyingkirkan sekat-sekat agama, ras, kedudukan, jabatan, politik, yang bersifat menghambat interaksi dan kedekatan di antara sesama anak bangsa.”

Profesor Galau. “Masihkan Bumi Indonesia Milik Kita?” Bedah Buku Prof. O.C.Kaligis di aula Kejaksaan Tinggi Manado Lantai 4, Jumat 14 November 2014. Secara pribadi, saya menambah kata Yang Mulia di depan kata Profesor O.C.Kaligis. Saya kagum atas konsistensi, totalitas keimuan, kepakaran, mampu mempersembahkan dua buku masing-masing setebal 480 halaman. Judul buku ini sangat provokatif, menantang ketajaman analisis rasional logis, bahkan sempat juga bersikap apriori, genelaralisasi, skeptis. Kedua buku ini mudah dimengerti,bisa dikonsumsi lintas disiplin ilmu.

Sayang, komentar dan pertanyaan dari pakar hukum dan praktisi hukum sepanjang sesi interaksi dalam kacamata saya sebagai Sosiolog, menunjukkan mereka tidak mengerti esensi dari buku ini. Mereka juga tidak mengerti masalah hukum yang membuat Yang Mulia Profesor galau. Padahal sumber galau: Pertama. Sebagai seorang Maha Guru Hukum sadar punya tugas dan tanggungjawab maha berat,yakni menciptakan produk hukum yang bersifat ‘membumi.’ Kedua. Menyakinkan semua orang bahwa sebuah karya besar harus dimulai dari ketidak sempurnaan, membutuhkan sebuah proses. Sedangkan audiens menganggap sebagai produk akhir. Ketiga. Menyadari bahwa pekerjaan berat adalah menumbuhkan budaya baca, budaya tulis, budaya ajar,serta budaya keteladanan bahwa tujuan utama produk hukum bukan untuk menghukum, melainkan lebih pada preventif,kuratif, edukatif (pencerah). Keempat. Modal utama seorang Ilmuwan Hukum yakni harus jujur, dalam menyikapi kualitas, integritas, karakteristik Hukum,praktisi Hukum bangsa ini.

Indikasi posisi Hukum dari kedua buku ini sangat pasif, hanya diam dan membiarkan tikus mengerogoti lumbung yang merupakan domain hukum. Banyak kontrak kerja tata kelolah hasil bumi mengkianati UUD 45  pasal 33 dan menguntungkan pihak asing. Hukum selalu hadir usai pesta pora kejahatan. Padahal peran hukum semestinya pada causa prima ketimbang causa sekunda. Produk hukum kita masih dalam tatanan teoritis, belum pada tatanan aplikatif,sering kali salah tingkah,beda tafsir. Maka,visi hukum harus lebih jelas,tegas, transparan,sesuai kebutuhan dan tantangan zaman. Lebih baik menghasilkan satu UU, tapi maksimal, dari pada punya seribu UU,tapi mubasir. Jadi, makna kehadiran kedua buku ini, bagi ilmuwan, teristimewa para praktisi hukum,para akademisi mungkin lebih sebagai sebuah tantangan dalam mengeksplorasi kecerdasan. Bahkan agar berani menawarkan paradigma baru,membangun citra baru bagi para lulusan Sarjana Hukum yang memiliki tiga kriteria kecerdasan, yakni IQ,EQ,SQ. Bangsa ini butuh kehadiran sosok-sosok seperti Profesor Sahetapi,Jaksa Agung Baharudin Lopa. Bersyukur, Unsrat memiliki pakar Hukum sekaliber Yang Mulia Profesor O.C.Kaligis. 

Harus Jadi Pengubah. Erupsi oligarki positif diejawantahkan dalam seruan lantang dari Yang Mulia Prof. O.C.Kaligis melalui kedua buku ini. Bangsa Indonesia harus memiliki kebebasan berpolitik,kemandirian ekonomi,kemakmuran,rebut kembali semua kontrak kerja yang merugikan negara. Seruan serupa juga sering dikumandangkan oleh Jokowi Presiden ke tujuh dalam berbagai kesempatan. Negeri kita kaya raya, tetapi salah urus sehingga yang beruntung adalah para pencuri. Mari kita pelihara gunung, hutan,bukit, lembah, jaga samudra, teluk dan selat. Karena menurut Menteri Perikanan dan Kelautan, Susi Pudjiastusi, setiap tahun kita kehilangan bukan hanya 300 triliun, melainkan ribuan triliun dari hasil laut, belum lagi hasil tambang,hutan dll.

Indonesia mau maju, harus berani mengubah haluan ekonomi, kembali ke alam, tetapi tidak merusak alam. Kita pasti teringat nama Mba Maridjan orang kepercayaan Sri Sultan Jogyakarta sebagai pemegang kunci gunung Merapi. Mba Maridjan yakin bahwa mampu berkomunikasi dengan ‘penguasa’ gunung Merapi. Atas nama kepercayaan, dan kesetiaan tanpa pamrih baik kepada Sri Sultan maupun kepada ‘penguasa’ gunung Merapi, Mba Maridjan ikhlas direnggut erupsi Merapi di rumahnya. Sikap Mba Maridjan ‘setia sampai mati,’ oleh kaum rasionalitas dianggap kebodohan, irasional. Sebaliknya bagi kaum kreatif naturalistik, sumber inspirasi penuh tantangan dan misteri.

Erupsi oligarki ala Jokowi dengan melakukan blusukan. Gerah berlama-lama dalam ruangan AC,sering meninggalkan ajudan dan wartawan, tidak mau tunggu laporan palsu, langsung turun lapangan, menyingsingkan lengan baju, menerjang macet, masuk gorong-gorong, masuk perkampungan marjinal,berdiskusi dan mendengar orang-orang kecil. Pejabat mentalitas feodalistis menganggap mustahil ‘orang besar’ (Gubernur) mau menjadi ‘orang kecil’ (mendengar, mengerti, menghargai). Gaung blusukan kian menggema,menerjang serta menembus sekat-sekat rongga mulut yang telah terlanjur nada sinis,apatis,skeptis. Bahkan membuat bola mata kawan dan lawan sulit berkedip (terperangah). Pejabat oligarki feodalistis (Legislatif, Eksekutif, Judikatif) yang selama ini merasa nyaman dan bangga dengan laporan palsu, munafik, transaksional, kompromistis dibuat ketar ketir,denyut nadi sulit diprediksi, mengimbangi gesitnya terjangan sang revolusioner sejati. “Kalau mau berubah jangan rasa-rasa,jangan setengah-setengah.”

Smart dan Cerdas. “Masihkah Bumi Indonesia Milik Kita?” Mencermati realitas maka  jawaban atas pertanyaan ini sangat sulit. (1) Pakar hukum kita masih banyak masalah,produk hukum kita sangat lemah. (2) Kualitas mentalitas politisi. Dari luar kelihatan gagah perkasa, tetapi, jiwa rapuh tidak berbudi luhur mulia. Kelihatan tegar wibawa sebagai negarawan, tetapi, kualitas mentalitas  seperti anak TK, yakni vandalistis dan rasionalisasi (mencari-cari) alasan pembenaran. “Sayang, DPR RI selalu ribut, sengaja mengingkari musyawarah untuk mufakat dan silahturahmi.” Voting dan koalisi (Demokrasi Liberal) disambut dengan gegap gempita sebagai solusi pembenaran saling berbagi kuasa dan pengaruh. Parlemen berubah wajah menjadi arena pembantaian homo homini lupus, saling jegal,kalah menang, keroyokan ketimbang mengedepankan harmonisasi serta berani mengambil resiko demi kedigdayaan, kebesaran,kejayaan, dan kemakmuran bangsa sebagai negarawan. Realitas ini mengisyaratkan bahwa NKRI diambang bubar. “Mengapa?” Karena bangsa ini telah memelihara ‘musuh’ dalam balutan negarawan (DPR,DPD, MPR). Mereka terima gaji buta,lebih mengedepankan ribut daripada bekerja. Rasanya mereka lebih jahat dari teroris. “Siapa antek asing,segera ditangkap.”

Implikasi smart dan cerdas bahwa bumi Indonesia masih milik kita, menurut pendapat orang-orang bijak bahwa terlebih dahulu kita harus mengubah mentalitas para politisi. Pindahkan arena ‘perang politisi’ bukan lagi di dalam gedung Parlemen ber-AC. Partai politik yang memaksakan kehendak menguasai Parlemen pasti ditinggalkan oleh rakyat. Hanya partai politik yang cerdas membaca tanda-tanda zaman akan selamat mengarungi samudra sepanjang 2014-2019. “Bekerja bersama dengan rakyat (nelayan, petani, pedagang asongan,pedagang di pasar,buruh tani,buruh pabrik, sopir angkot, tukang ojek,dll. Sekarang diutamakan ‘smart’ dan cerdas, ketimbang retorika kecap-sambal,keras hati lupa daratan, tidak jelas integritas,Asal Ketua Partai Senang (AKPS). Percaya atau tidak, 2019 partai politik dan politisi tersebut pasti gulung tikar (sayonara). “Cepat bertobat sebelum terlambat.”

Penutup. Bumi nusantara adalah milik kita. Sinergitas kualitas lintas keilmuan adalah taruhan. Semua komponen bangsa harus berani menyingkirkan politik ego promordial komunal, politisi parasit kekanak-kanakkan, serta pejabat oligarki feodal. Rakyat pemilik bangsa pantas meradang (marah) tatkala Legislatif, Eksekutif, Judikatif serta siapapun yang berani buat ulah. Sudah tidak ada kata sabar,terlalu panjang waktu berdebat untuk hal yang tidak jelas,sudah banyak uang dihamburkan sia-sia. Sekarang saatnya kita bekerja, singsingkan lengan baju membalikkan sejarah sebagai bangsa pemenang. Tidak ada kata mustahil, karena ada 250 juta warga bangsa selalu menanti.

Jika masih ada ganjalan kata dan rasa, diselesaikan saja secara kekeluargaan dengan senyum dan canda tawa. Lupakan saja menang – kalah karena itu sifatnya hanya sesaat. Jadilah manusia beradab, agar tidak saling jegal, tidak saling menelanjangi cacat dan celah sesama saudara. Mari kita belajar dan belajar. Yang Mulia Profesor O.C.Kaligis telah memberikan pencerahan. Mba Maridjan  membuktikannya. Mari kita berlayar bersama Jokowi-JK menaklukan ombak dan taufan, mengarungi samudra,teluk dan selat,menelusuri gunung dan lembah menuju Indonesia Jaya. “Sekian!!!”

 

Komentar
Kirim Komentar